Title : The Black Point
Genre : Action-Romance,
Comedy, Sad
Rate : 15+
Leght : Seasons
Cast : - Lee Jimin
- Jung Sungha
- Lee Jihyuk
- Lee Yong Gun
Disclamer : Ini adalah FF action pertama yang
kubuat.
Semoga suka ya ^^
^^Happy Reading^^
Di malam yang cerah terlihat
banyak orang yang sedang memadati sebuah gedung mewah bermebel bintang lima. Ada
banyak karangan bunga dan ucapan selamat yang mengelilingi sisi gedung
tersebut. Ya, tentu saja. malam Ini adalah perayaan pesta ulang tahun Jimin dan
perusaan milik ayahnya, Lee Corporation.
Gelak tawa semua orang pun senantiasa memeriahkan pesta tersebut.
“Selamat ulang tahun, Jiminku”, ucap Tuan Lee pada putri
kecilnya.
“Terimakasih, ayah. Jimin saying ayah”, ucap Jimin sambil
memeluk ayahnya.
“Jimin sayang, ayah harus menyambut teman-teman ayah. Kau main
saja sama kakak ya.
“Iya ayah”
Boleh ayah minta satu kissu darimu”, ucap ayah sambil
menyodorkan pipinya kea rah wajah manis Jimin.
“Tentu” Dengan hangat Jimin mencium pipi ayahnya.
Jiminpun
pergi menghampiri kakaknya, Lee Jihyuk yang sedang berada di sudut ruang sana.
Jihyuk memang orang yang pendiam. Dia lebih suka menyendiri ketimbang
membicarakan hal-hal yang tidak penting dengan orang-orang. Tapi, ketika
bersama Jimin seketika ia akan berubah menjadi kakak yang bisa diandalkan. Ya,
Jihyuk memang sangat menyayangi adik satu-satunya itu.
“Oppa”, panggil Jimin sambil bergelut manja di lengan
kakaknya.
“Hmm?”
“Ini kan ulang tahunku. Boleh aku minta sesuatu padamu?”
“Aiss.. Kau ini.. Umurmu sudah bertambah tapi kelakuanmu
tetap saja tidak berubah. Memangnya kau mau minta apa?”
“Mainkan untukku lagu What
Shall I Do dari Lee Jung So”
“Tidak mau”, ucap Jihyuk sambil mengerucutkan bibirnya.
“Aiss… Oppa jahat!”, ucap Jimin sambil menarik baju
kakaknya.
“Iya iya baiklah”
“Hee, makasih oppa”
Atas
permintaan Jimin, Jihyukpun naik ke atas panggung lalu menjangkau sebuah piano
yang diletakkan disana. Perlahan, jari-jari Jihyuk menari membentuk alunan tuts
yang sangat indah. Semua orang bertepuk tangan kagum padanya.
10 menit kemudian…
Kini, acara tiup lilin pun
akan segera dimulai. Di depan sebuah kue ulang tahun, telah berdiri Jimin
dengan didampingi oleh ayah dan kakaknya. Dengan antusias semua hadirin
menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Perlahan dengan perasaan gembira Jimin
meniup lilin-lilin yang mengelilingi kue ulang tahunnya.
Doooorr!!!
Tiba-tiba terdengar suara tembakan.
Tak disangka, sebuah peluru membus tepat di bagian jantung Tuan Lee. Tuan
Leepun langsung jatuh ditempat. Semua hadirin berteriak panik.
“Ayaaah!!!”, teriak Jimin ketakutan saat melihat banyak
darah yang bersimbah di baju ayahnya.
“Ayah.. Bertahanlah ayah…”, ucap Jihyuk sedikit terisak.
Tak
kemudian ambulanpun dating. Dengan cepat Tuan Lee dibawa menuju Rumah Sakit
Unit Darurat terdekat.
Dari
luar jendela ruang ICU, terlihat ekspresi cemas yang tergambar jelas di wajah
Jihyuk saat berusaha meredam tangisan adiknya. Mereka tentu sangat terpukul
atas kejadian ini. Tidak ada yang dapat menyangka semuanya akan jadi seperti
ini.
Tak
lama kemudian, dokterpun dating menghampiri mereka.
“Apa anda anak dari pasien bernama Tuan Lee Yong Gun?”, Tanya
dokter pada Jihyuk.
“Iya. Saya anaknya”
“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan
berkehendak lain..”
“Tidak.. Tidak mungkin…”
“Maaf. Tuan Lee telah meninggal tepat pada jam sepuluh dini
hari”
“Tidak..” Jihyuk pun langsung terduduk lemas ke atas lantai.
“Oppa.. Ayah kenapa?”, Tanya Jimin bingung.
Jihyuk hanya menatap Jimin tanpa
bisa berkata apapun. Ia tahu kenyataan ini memang terlalu pahit untuk Jimin
ketahui.
Dengan
langkah gontai, Jihyuk menuntun Jimin masuk ke ruang ICU. Di sudut ruang
terlihat sesosok mayat dengan sisa darah yang masih membekas tubuhnya. Dengan
tubuh gemetar, Jihyuk menghampiri ayahya yang telah terbarik kaku.
“Ayah.. Bangun ayah.. Jimin janji, Jimin akan turuti semua
perintah ayah. Jimin tidak akan tidur larut malam lagi. Jimin akan belajar
dengan rajin. Dan Jimin akan makan tepat waktu. Jadi bangunlah ayah…”, ucap
Jimin sambil menggenggam tangan ayahnya yang telah membeku.
Ucapan
Jimin membuat hati Jihyuk seperti tersayat benda tajam. Dengan menahan semua
kesedihannya, ia berusaha menyembunyikan air mata yang telah terkumpul di
kelopak matanya. Suasana harupun mengisi ruang tersebut. Hari yang indah
seketika berubah menjadi gelap. Peristiwa itu selamanya akan membekas di dalam ingatan mereka.
The Black Point Shoot
1 - End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar