Rabu, 03 Juli 2013

The Black Point Shoot 1



                                                                Title              :        The Black Point
                                                                Genre           :        Action-Romance, Comedy, Sad
                                                                Rate             :        15+
                                                                Leght            :        Seasons
                                                                Cast              :  -     Lee Jimin
                           -     Jung Sungha
                             -     Lee Jihyuk
                           -     Lee Yong Gun
                 Disclamer    :        Ini adalah FF action pertama yang       
                                                kubuat. Semoga suka ya ^^



^^Happy Reading^^


                Di malam yang cerah terlihat banyak orang yang sedang memadati sebuah gedung mewah bermebel bintang lima. Ada banyak karangan bunga dan ucapan selamat yang mengelilingi sisi gedung tersebut. Ya, tentu saja. malam Ini adalah perayaan pesta ulang tahun Jimin dan  perusaan milik ayahnya, Lee Corporation. Gelak tawa semua orang pun senantiasa memeriahkan pesta tersebut.

“Selamat ulang tahun, Jiminku”, ucap Tuan Lee pada putri kecilnya.
“Terimakasih, ayah. Jimin saying ayah”, ucap Jimin sambil memeluk ayahnya.
“Jimin sayang, ayah harus menyambut teman-teman ayah. Kau main saja sama kakak ya.
“Iya ayah”
Boleh ayah minta satu kissu darimu”, ucap ayah sambil menyodorkan pipinya kea rah wajah manis Jimin.
“Tentu” Dengan hangat Jimin mencium pipi ayahnya.
                Jiminpun pergi menghampiri kakaknya, Lee Jihyuk yang sedang berada di sudut ruang sana. Jihyuk memang orang yang pendiam. Dia lebih suka menyendiri ketimbang membicarakan hal-hal yang tidak penting dengan orang-orang. Tapi, ketika bersama Jimin seketika ia akan berubah menjadi kakak yang bisa diandalkan. Ya, Jihyuk memang sangat menyayangi adik satu-satunya itu.

“Oppa”, panggil Jimin sambil bergelut manja di lengan kakaknya.
“Hmm?”
“Ini kan ulang tahunku. Boleh aku minta sesuatu padamu?”
“Aiss.. Kau ini.. Umurmu sudah bertambah tapi kelakuanmu tetap saja tidak berubah. Memangnya kau mau minta apa?”
“Mainkan untukku lagu What Shall I Do dari Lee Jung So”
“Tidak mau”, ucap Jihyuk sambil mengerucutkan bibirnya.
“Aiss… Oppa jahat!”, ucap Jimin sambil menarik baju kakaknya.
“Iya iya baiklah”
“Hee, makasih oppa”



                Atas permintaan Jimin, Jihyukpun naik ke atas panggung lalu menjangkau sebuah piano yang diletakkan disana. Perlahan, jari-jari Jihyuk menari membentuk alunan tuts yang sangat indah. Semua orang bertepuk tangan kagum padanya.




10 menit kemudian…

                Kini, acara tiup lilin pun akan segera dimulai. Di depan sebuah kue ulang tahun, telah berdiri Jimin dengan didampingi oleh ayah dan kakaknya. Dengan antusias semua hadirin menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Perlahan dengan perasaan gembira Jimin meniup lilin-lilin yang mengelilingi kue ulang tahunnya.

Doooorr!!!

Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Tak disangka, sebuah peluru membus tepat di bagian jantung Tuan Lee. Tuan Leepun langsung jatuh ditempat. Semua hadirin berteriak panik.

“Ayaaah!!!”, teriak Jimin ketakutan saat melihat banyak darah yang bersimbah di baju ayahnya.
“Ayah.. Bertahanlah ayah…”, ucap Jihyuk sedikit terisak.

                Tak kemudian ambulanpun dating. Dengan cepat Tuan Lee dibawa menuju Rumah Sakit Unit Darurat terdekat.

                Dari luar jendela ruang ICU, terlihat ekspresi cemas yang tergambar jelas di wajah Jihyuk saat berusaha meredam tangisan adiknya. Mereka tentu sangat terpukul atas kejadian ini. Tidak ada yang dapat menyangka semuanya akan jadi seperti ini.

                Tak lama kemudian, dokterpun dating menghampiri mereka.

“Apa anda anak dari pasien bernama Tuan Lee Yong Gun?”, Tanya dokter pada Jihyuk.
“Iya. Saya anaknya”
“Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain..”
“Tidak.. Tidak mungkin…”
“Maaf. Tuan Lee telah meninggal tepat pada jam sepuluh dini hari”
“Tidak..” Jihyuk pun langsung terduduk lemas ke atas lantai.
“Oppa.. Ayah kenapa?”, Tanya Jimin bingung.

Jihyuk hanya menatap Jimin tanpa bisa berkata apapun. Ia tahu kenyataan ini memang terlalu pahit untuk Jimin ketahui.

                Dengan langkah gontai, Jihyuk menuntun Jimin masuk ke ruang ICU. Di sudut ruang terlihat sesosok mayat dengan sisa darah yang masih membekas tubuhnya. Dengan tubuh gemetar, Jihyuk menghampiri ayahya yang telah terbarik kaku.

“Ayah.. Bangun ayah.. Jimin janji, Jimin akan turuti semua perintah ayah. Jimin tidak akan tidur larut malam lagi. Jimin akan belajar dengan rajin. Dan Jimin akan makan tepat waktu. Jadi bangunlah ayah…”, ucap Jimin sambil menggenggam tangan ayahnya yang telah membeku.

                Ucapan Jimin membuat hati Jihyuk seperti tersayat benda tajam. Dengan menahan semua kesedihannya, ia berusaha menyembunyikan air mata yang telah terkumpul di kelopak matanya. Suasana harupun mengisi ruang tersebut. Hari yang indah seketika berubah menjadi gelap. Peristiwa itu selamanya akan membekas di  dalam ingatan mereka.





The Black Point Shoot 1 - End